Aku baru saja sampai di Yogya Kamis yang lalu, sengaja berangkat sehari sebelumnya karena ada kegiatan di kota ini yang akan dilaksanakan pagi hari. Berat hati rasanya meninggalkan suami menjelang akhir pekan ini, tapi toh seperti biasa kunjunganku tidak akan lama di kota ini. Malamnya sebelum tidur, aku berdoa agar jangan sampai terjadi bencana pada kunjunganku kali ini. Entah kenapa kali ini aku benar-benar khawatir dan mengalami susah tidur sebelum akhirnya terlelap.
Semua kegiatanku di hari berikutnya sangat lancar, hanya saja ada beberapa hal-hal yang tidak bisa dilakukan di hari Sabtu, sehingga aku memutuskan mempercepat jam kepulangan ke Jakarta *horeee*. Sambil menunggu orang yang mau diajak rapat, aku berdiskusi dengan teman-teman lain sambil sesekali mengalihkan pandangan ke TV yang ada di ruangan sebelah. Tiba-tiba ada berita yang langsung jadi perhatian semua orang di gedung itu, gempa 8.9 SR (tapi kemudian dikoreksi menjadi 9 SR) terjadi di Pulau Honshu, Jepang.
Saat berita ini menjadi perhatianku, ternyata aku harus segera rapat. Selesai rapat, langsung menuju ke tempat makan dan selanjutnya kembali ke hotel. Sms dari ibuku langsung masuk, menanyakan apakah gempa di Jepang juga melanda tempat tinggal Om-ku di Kyoto. Aku segera menyalakan TV dan membuka laptop, mengecek wilayah mana saja yang terkena dampak gempa dan tsunami. Ternyata Kyoto berada di wilayah aman, sedangkan Tokyo, Sendai, dan daerah utara pulau tersebut terkena dampak parah. Langsung teringat dengan beberapa teman yang berdomisili di Tokyo, aku langsung membuka Facebook. Walaupun tidak yakin mereka bisa mengakses internet dalam kondisi seperti itu. Tapi ajaibnya justru FB sangat bisa diandalkan untuk mengupdate kondisi mereka karena saluran telepon langsung mati pada saat gempa terjadi sedangkan internet masih berfungsi. Hanya saja, seorang teman yang sedang menuntut ilmu di Sendai belum diketahui keberadaannya walo sudah dapat dipastikan selamat. Sepertinya ia mencoba mencari pertolongan dengan melakukan perjalanan ke tempat yang lebih aman.
Jepang saat ini mengalami musim dingin, sehingga seorang teman yang panik melupakan jaket saat membawa sang batita keluar rumah. Untungnya ada tetangga yang berbaik hati memberikan jaket. Sang suami saat itu berada di kantor, tapi tidak bisa segera pulang karena jalur transportasi terputus dan ia memutuskan untuk menginap di penampungan stasiun. Walaupun hati sangat ketar-ketir, teman ini meneguhkan diri untuk kembali ke rumah karena hari semakin gelap dan dingin, namun ternyata sulit sekali untuk tidur di tengah-tengah gempa susulan tersebut.
Aku sendiri hanya bisa terpaku, menyaksikan tsunami menyapu areal pertanian, perumahan, pertokoan, dan sebagainya. Melihat betapa kuatnya arus laut itu menghanyutkan semua bangunan dan kendaraan yang dilewatinya dan betapa cepatnya arus itu bergerak. Referensiku mengenai gambaran tsunami masih sangat minim, hanya pernah melihat dari hasil kamera amatir saat tsunami Aceh dan 'bekal' dari menonton film Krakatoa: The Last Days. Menonton film Krakatoa: The Last Days ini di Metro TV benar-benar membuatku tersadar, betapa secara personal pun aku belum punya bekal untuk bisa menyelamatkan diri dari bencana yang ada di negeri ini. Berbekal pengetahuan saja jelas tidak cukup, harus ada latihan rutin dan sarana yang mendukung untuk meminimalkan korban jiwa.
Walaupun Jepang merupakan negara yang dianggap memiliki kesiapsiagaan yang tinggi terhadap bencana (khususnya gempa bumi dan tsunami), namun tetap saja, gempa yang lalu tetap memakan korban dalam jumlah besar. Sampai detik ini belum ditemukan suatu cara untuk mengetahui kapan dan di mana gempa akan terjadi. Sistem peringatan dini tsunami telah dapat dikembangkan, namun itu hanya untuk memberikan 30-45 menit menit waktu bagi warga untuk dievakuasi segera setelah gempa terjadi. Secara visual, kecepatan arus tsunami kemaren melebihi kecepatan kendaraan yang bergerak di dekatnya, sehingga aku sendiri tidak yakin apakah penyelamatan dengan menggunakan kendaraan akan efektif. Ini hanya satu dari segudang tugas yang perlu diselesaikan dalam peningkatan kapasitas dalam penanggulangan bencana di negeri ini, walaupun hal tersebut bukan berarti dapat menghilangkan bencana berikut korbannya.
Sms lain masuk ke HP-ku, lagi-lagi sang bunda memintaku menghubungi Om yang berdomisili di Kyoto tadi. Kucoba mengirim email, tapi gagal, ternyata karena kesalahan pengetikan, akhirnya email terkirim. Dan yang dapat kulakukan sekarang hanyalah menunggu. Menunggu kabar mengenai kondisi Om dan istrinya, menunggu kabar dari teman yang belum terlacak keberadaannya oleh KBRI, menunggu memberikan kabar baik kepada ibuku. Semoga mereka semua selamat dan berada dalam keadaan sehat wal'afiat.
Semua kegiatanku di hari berikutnya sangat lancar, hanya saja ada beberapa hal-hal yang tidak bisa dilakukan di hari Sabtu, sehingga aku memutuskan mempercepat jam kepulangan ke Jakarta *horeee*. Sambil menunggu orang yang mau diajak rapat, aku berdiskusi dengan teman-teman lain sambil sesekali mengalihkan pandangan ke TV yang ada di ruangan sebelah. Tiba-tiba ada berita yang langsung jadi perhatian semua orang di gedung itu, gempa 8.9 SR (tapi kemudian dikoreksi menjadi 9 SR) terjadi di Pulau Honshu, Jepang.
Saat berita ini menjadi perhatianku, ternyata aku harus segera rapat. Selesai rapat, langsung menuju ke tempat makan dan selanjutnya kembali ke hotel. Sms dari ibuku langsung masuk, menanyakan apakah gempa di Jepang juga melanda tempat tinggal Om-ku di Kyoto. Aku segera menyalakan TV dan membuka laptop, mengecek wilayah mana saja yang terkena dampak gempa dan tsunami. Ternyata Kyoto berada di wilayah aman, sedangkan Tokyo, Sendai, dan daerah utara pulau tersebut terkena dampak parah. Langsung teringat dengan beberapa teman yang berdomisili di Tokyo, aku langsung membuka Facebook. Walaupun tidak yakin mereka bisa mengakses internet dalam kondisi seperti itu. Tapi ajaibnya justru FB sangat bisa diandalkan untuk mengupdate kondisi mereka karena saluran telepon langsung mati pada saat gempa terjadi sedangkan internet masih berfungsi. Hanya saja, seorang teman yang sedang menuntut ilmu di Sendai belum diketahui keberadaannya walo sudah dapat dipastikan selamat. Sepertinya ia mencoba mencari pertolongan dengan melakukan perjalanan ke tempat yang lebih aman.
Jepang saat ini mengalami musim dingin, sehingga seorang teman yang panik melupakan jaket saat membawa sang batita keluar rumah. Untungnya ada tetangga yang berbaik hati memberikan jaket. Sang suami saat itu berada di kantor, tapi tidak bisa segera pulang karena jalur transportasi terputus dan ia memutuskan untuk menginap di penampungan stasiun. Walaupun hati sangat ketar-ketir, teman ini meneguhkan diri untuk kembali ke rumah karena hari semakin gelap dan dingin, namun ternyata sulit sekali untuk tidur di tengah-tengah gempa susulan tersebut.
Aku sendiri hanya bisa terpaku, menyaksikan tsunami menyapu areal pertanian, perumahan, pertokoan, dan sebagainya. Melihat betapa kuatnya arus laut itu menghanyutkan semua bangunan dan kendaraan yang dilewatinya dan betapa cepatnya arus itu bergerak. Referensiku mengenai gambaran tsunami masih sangat minim, hanya pernah melihat dari hasil kamera amatir saat tsunami Aceh dan 'bekal' dari menonton film Krakatoa: The Last Days. Menonton film Krakatoa: The Last Days ini di Metro TV benar-benar membuatku tersadar, betapa secara personal pun aku belum punya bekal untuk bisa menyelamatkan diri dari bencana yang ada di negeri ini. Berbekal pengetahuan saja jelas tidak cukup, harus ada latihan rutin dan sarana yang mendukung untuk meminimalkan korban jiwa.
Walaupun Jepang merupakan negara yang dianggap memiliki kesiapsiagaan yang tinggi terhadap bencana (khususnya gempa bumi dan tsunami), namun tetap saja, gempa yang lalu tetap memakan korban dalam jumlah besar. Sampai detik ini belum ditemukan suatu cara untuk mengetahui kapan dan di mana gempa akan terjadi. Sistem peringatan dini tsunami telah dapat dikembangkan, namun itu hanya untuk memberikan 30-45 menit menit waktu bagi warga untuk dievakuasi segera setelah gempa terjadi. Secara visual, kecepatan arus tsunami kemaren melebihi kecepatan kendaraan yang bergerak di dekatnya, sehingga aku sendiri tidak yakin apakah penyelamatan dengan menggunakan kendaraan akan efektif. Ini hanya satu dari segudang tugas yang perlu diselesaikan dalam peningkatan kapasitas dalam penanggulangan bencana di negeri ini, walaupun hal tersebut bukan berarti dapat menghilangkan bencana berikut korbannya.
Sms lain masuk ke HP-ku, lagi-lagi sang bunda memintaku menghubungi Om yang berdomisili di Kyoto tadi. Kucoba mengirim email, tapi gagal, ternyata karena kesalahan pengetikan, akhirnya email terkirim. Dan yang dapat kulakukan sekarang hanyalah menunggu. Menunggu kabar mengenai kondisi Om dan istrinya, menunggu kabar dari teman yang belum terlacak keberadaannya oleh KBRI, menunggu memberikan kabar baik kepada ibuku. Semoga mereka semua selamat dan berada dalam keadaan sehat wal'afiat.
This comment has been removed by the author.
ReplyDeletesedikit masukan: perkiraan lokasi dan besar gempa bisa diketahui, waktunya itu yang masih misteri :)
ReplyDelete@ Dita: makasi koreksinya Dita. Tanda tanya paling besar memang KAPAN gempa itu akan terjadi. Faktanya, bahkan negara seperti jepang sekalipun belum dapat memperkirakan gempa sebesar itu dapat terjadi di negara mereka. Reaktor nuklir yang dibangun hanya memperkirakan gempa sebesar 8.5 SR saja
ReplyDelete