Thursday, September 02, 2010

Hidup yang tersiakan

Masih segar dalam ingatan wajahnya yang cantik dan kebaikan hatinya saat kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia memiliki nama depan yang sama denganku, dan aku rasa ini membuat kami berdua menjadi akrab. Namun dari segi fisik, kami memiliki perawakan yang berbeda. Dia berkulit lebih gelap dariku, berwajah cantik, postur proporsional, berambut lurus dan panjang, membuat aku terlihat biasa saja di sampingnya. Namun bagi kami hal itu tidak menjadi penting, toh kami tetap bermain bersama dan menghabiskan waktu kemana-mana berdua. Ya, kami bisa dibilang sahabat di masa kecil. Disebut begitu, karena kami tidak lagi bersama pada saat mulai beranjak dewasa. Aku rasa, kepindahanku ke Bandung membuat kami terpisahkan baik dari segi jarak dan hati. Walaupun di tahun-tahun berikutnya aku kembali lagi ke sekolah itu dan berada satu kelas dengannya lagi, itu pun tidak merubah apa pun. Saat itu, dia sudah memiliki circlenya sendiri, yang tidak dapat kudekati sedikit pun. Rasa rendah diri karena bukan dari kalangan berada mulai muncul di dalam diri ini.



Melanjutkan pendidikan ke SMP yang berbeda dari teman-teman SD tidak membuatku begitu saja lepas dari kabar tentangnya, kami toh masih satu kota. Kota kecil ini terus membuatku mendengar kabar-kabar miring tentangnya, dan tidak satu pun dari kabar itu aku percayai. Tanpa perlu penjelasan aku sudah memiliki interpretasiku sendiri terhadap kabar itu. Bagiku, kabar-kabar itu hanyalah kerjaan orang yang tidak suka padanya. Sosoknya memang gampang membuat orang iri, karena selalu terlihat menonjol di mana pun dia berada, sifatnya yang tidak terlalu terbuka juga dapat diinterpretasikan berbeda oleh orang lain, ditambah lagi dengan hidupnya yang selalu berkecukupan bahkan di atas rata-rata teman-teman sebayanya. Kehadirannya di berbagai sudut kota kecil itu bagaikan kemunculan selebritis. Wajar saja, banyak cowok yang mengejarnya dan mengecewakan teman-teman cewek di sekitarnya.


Memasuki SMA, aku makin kehilangan kabar tentangnya. Aku masih bisa menangkap sosoknya di sekolahku pada tahun pertama, tapi kemudian tidak pernah melihatnya lagi di kelas itu. Aku bahkan tidak memikirkannya lagi dan malah menyibukkan diri dengan persiapan untuk kuliah. Dia kemudian sama sekali terlupakan pada masa kuliahku, sampai satu hari aku memutuskan untuk ngekos agar lebih fokus dengan tugas akhirku. Tempat yang aku pilih telah melewati seleksi ketat dari mama dan salah satu referensinya adalah adanya teman SMA yang juga ngekos di sana. Bagi Mama, sangat penting untuk tahu dengan siapa aku bergaul dan tinggal selama kuliah di Bandung. Ternyata salah seorang teman kosku, sebut saja Y, pernah mengenalnya. Mantan pacarnya Y adalah kakak dari R, yang sudah bertahun-tahun menjadi pacar dari teman masa kecilku ini.


Pada pertengahan masa kuliahku dia telah menikah dengan R. Namun seperti yang dibenarkan oleh Y, gaya hidup mereka memang berbeda dengan kalangan lainnya. Mengkonsumsi narkoba adalah suatu kebutuhan dan membuat mereka bergantian masuk IGD karena overdosis. Bahkan kakak R, mantan pacar Y, juga meninggal karena overdosis. Tak berbeda dengan kakaknya, R pun meninggal karena overdosis hanya setelah beberapa tahun menikah. Sampai di tahun aku bertemu dengan Y, dia masih dikabarkan bermain api dengan narkoba.


Tiba-tiba saja aku begitu peduli padanya dan berusaha melacak keberadaannya, tapi nihil. Setiap pulang ke kampung halaman, aku selalu berusaha mencari informasi tentangnya tapi tidak ada hasil. Tentu saja aku tidak punya nyali untuk datang ke rumahnya yang dulu terlihat mewah tapi kini tampak tak terurus. Kabar terakhir yang kuterima adalah ibunya yang cantik bak putri raja itu sudah mengalami kebutaan. Mendengar kabar ini, membuatku kembali merenung. Hubungannya dengan ayah maupun ibunya tidak bisa dibilang dekat. Aku tidak pernah lupa wajah tanpa ekspresi yang dia tunjukkan padaku setiap kali pengambilan rapor. Setiap orangtua murid selalu datang untuk mengambil rapor anak-anaknya, kecuali orangtuanya. Selalu saja ada seorang pria yang datang mengaku sebagai pamannya yang mengambilkan rapornya dan adiknya. Banyak yang menggosipkan bahwa hidupnya memang bergelimang harta, tapi sangat miskin kontak dengan orangtuanya. Aku tidak akan menilai kadar kasih sayang orangtuanya, karena aku toh tak begitu tahu banyak soal ini.


Lama tak terdengar kabarnya selama hampir satu dekade, tiba-tiba adikku mengabarkan tentang dirinya. Facebook memang ampuh untuk membuat kita tahu kabar orang lain. Hanya saja, yang kudengar adalah berita tentang dia yang sudah menghadap sang Khalik. Tidak percaya, aku langsung mengecek status yang dimaksud. Tak berani untuk bertanya pada yang empunya status karena memang tidak begitu kenal. Bulir-bulir bening langsung mengalir deras dari mataku, hidupnya begitu pendek dan ini menutup kesempatanku untuk bertemu dirinya lagi. Dia dikabarkan meninggal karena sakit, tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut.


Aku berharap, di sisa hidupnya itu, dia mendapatkan kasih sayang yang layak dia peroleh. Aku berharap, dia menikmati setiap menit kehidupannya tanpa kehadiran narkoba.

Aku berharap, dia dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dan mendukungnya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Aku berharap, dia mendapat tempat di sisi-Nya dan mendapat ampunan atas semua kesalahannya.


Selamat jalan kawan, beristirahatlah dengan tenang.

12 comments:

  1. hidup memang "unik" ya sista....
    punya sisi yang kadang sulit dipahami

    ReplyDelete
  2. whaaattt not updating???? look who's blog this is??? hahaha... keep writing bu keep writing!!!

    ReplyDelete
  3. @ Vika
    Bener banget, jangankan hidup orang lain, lika-liku hidupku aja masi terus bikin aku penasaran :)

    ReplyDelete
  4. @ Farid
    You too Farid, miss your writings

    ReplyDelete
  5. Apa karena ada kata2 narkoba sampai nama pelakunya aja harus pake inisial? :).
    May he rest in peace.

    ReplyDelete
  6. @ Je,
    Buatku siy ga ada hubungannya Je, alasannya adalah karena yang menjadi topik dari tulisan ini bukanlah orang2 dgn inisial itu, melainkan teman masa kecilku :).

    ReplyDelete
  7. Hehhh, lama gak bertandang ke mari, nemu postingan pilu. Jadi inget abang gue *haduh, jadi miris*

    ReplyDelete
  8. @ Mbak Dini: Semoga hal ini tidak terulang pada orang2 di sekitar kita ya mbak

    ReplyDelete
  9. i know them all

    hope they will rest in peace

    R..... , K...

    Benteng .......... BKT

    ReplyDelete
  10. Sedih... Jadi kepikir apa yang akan kejadian ke account facebook kita kalo kita uda g ada...

    ReplyDelete
  11. @ Je: merinding ih membayangkannya. Soalnya baru aja nyadar, account facebook dari temen yg meninggal taon yll masi saja aktif, mungkin suami atau kerabat lainnya ga tahu passwordnya ya? Kira-kira FB memfasilitasi surat wasiat utk password penggunanya ga ya?

    ReplyDelete